mendambakan doa malaikat

        Infaq merupakan salah satu ibadah utama yang mendapat doa atau didoakan oleh malaikat bagi yang melaksanakannya. Tidak semua ibadah dalam Islam yang mendapat atau didoakan oleh malaikat. Ini semacam apresiasi yang memberi motivasi untuk berfastabiqul khairat dalam berinfaq.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh  dua imam besar hadits, al-Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah menceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

"Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) ".

Setiap pagi ada dua malaikat turun lalu salah satu di antara mereka mendoakan bagi yang berinfaq atau membelajakan hartanya untuk kepentingan dinullah, “'Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menginfakkan (menafkahkan) hartanya”.

Dan satu malaikat lagi mendoakan bagi mereka yang tidak menginfakkan atau menahan hartanya dari berinfaq untuk kepentingan dinullah, “Ya Allah, musnahkanlah harta si bakhil.”

Tentu kita mengharapkan doa baik malaikat itu. Untuk mendapatkannya setiap hari, kita harus memenuhi ‘illat’ atau alasan dan penyebab malaikat itu akan mendoakannya. Karena itu bila kita mendambakan doa ‘baik’ malaikat tersebut setiap hari, maka setiap pagi kita harus menyisihkan sebagian harta kita untuk kita infaqkan atau sedekahkan bagi kepentingan din Allah, bukan kepentingan yang lain.

Sudah selayaknya kita mendambakan doa malaikat, tetapi tidak semua orang mendapatkannya, karena tidak mau memenuhi ‘illat’nya.

Allah sendiri dengan tegas akan mengganti harta yang diinfaqkan. FirmanNya,

وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya (QS. Saba 34: 39)

Selain itu, menginfaqkan sebagian harta, juga akan mendapatkan balasan berlimpah dari Allah SWT. Dan Allah tidak akan menyelisihi janjiNya. Tentu janji Allah akan terwujud, bila manusia mampu memenuhi syarat-syaratNya. Allah berfirman dalam surah al-An’am [6]: 160,

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Doa malaikat dikabulkan oleh Allah dengan memberikan ganti bagi yang berinfaq, bahkan Allah melimpahkan pemberianNya sepuluh kali lipat.

Dalam surat al-Baqarah [2]: 261, Allah memberi peluang bagi yang mau berinfaq untuk mendapatkan limpahan karunia berlipat-lipat dan berganda-ganda. Allah berfirman,

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Berbeda dengan orang yang yang menahan hartanya dan tidak diinfaqkan bahkan tidak mau menginfaqkannya di jalan Allah, malaikat mendoakan agar harta itu dimusnahkan.

Dalam ajaran Islam, infaq sangat  tinggi nilainya. Selain mengikis sifat-sifat yang tidak baik (kikir, bakhil, medit dan mementingkan diri sendiri), infaq juga menimbulkan kesadaran sosial yang  mendalam, bahwa manusia senantiasa saling membutuhkan, dan tidak akan dapat hidup seorang diri.

Ia juga dapat diberdayakan untuk memberatas penyakit kemiskinan dan kebodohan, untuk penyiaran agama Islam dan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Wallahu A’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini